Book
Satu Bab yang Menelanjangi Indonesia dalam Novel Jonas Jonasson
![]() |
| Novel Jonas Jonasson |
Penulisnya
adalah Jonas Jonasson, seorang kelahiran Swedia, yang pernah malang-melintang
sebagai jurnalis. Tokoh utamanya bernama Allan Emanuel Karlsson, seorang lelaki
tua berumur 100 tahun. Siapa pun yang melihat Allan pertama kali, pasti mengira ia
sekedar pria biasa yang kesepian. Tapi Allan bukan pria biasa. Ia telah melalui
berbagai pahit getir kehidupan, berkeliling dunia hingga menyeberangi Himalaya
dengan seekor unta, berkenalan dan menjadi akrab dengan para pemimpin berbagai
negara di era perang dunia, hingga selamat dari beberapa kali ancaman kematian
berkat kecerdikan dan akalnya.
Semua
pengalaman itu ia dapatkan karena kepandaiannya merakit bom; sebuah keahlian
yang sangat dibutuhkan pada masa peperangan. Di masa mudanya, ia keranjingan
melakukan percobaan terhadap bom buatannya, hingga secara tak sengaja
meledakkan rumahnya sendiri. Dalam keadaan sebatang kara tanpa orang tua dan
tak punya rumah, ia bertemu seorang warga Spanyol di tempat kerjanya. Bersama
rekannya tersebut, ia melarikan diri ke Spanyol, dan menjadi akrab dengan
Jenderal Franco setelah menyelamatkannya dari sebuah ledakan bom. Perang membuat ia
meninggalkan Spanyol menuju Amerika, di mana ia membagikan resep bom-nya dan
bersahabat dengan Presiden Amerika.
Hubungan
baiknya dengan Presiden Amerika membuat ia dipercaya melakukan perjalanan ke Tiongkok dan berkenalan
dengan istri Mao Tse-tung. Perjalanannya kemudian berlanjut ke Iran, hingga
mendapatkan pengalaman paling mendebarkan di Rusia, di mana ia bertemu dengan
Herbert Einstein, adik Albert Eistein yang kecerdasan otaknya berbanding
terbalik dengan sang kakak. Ia dikirim ke kamp pengasingan karena berselisih paham
dengan Stalin yang dianggapnya terlalu temperamental. Berkat kecerdikannya dan
kedunguan Herbert yang cukup membantu, keduanya bisa melarikan diri dari kamp tersebut
setelah sebuah huru-hara. Dengan menyamar sebagai jenderal Rusia, mereka menuju
Korea Utara dan menipu putra Presiden Kim Jong Un--putra Presiden Kim Jong Il--demi bisa mendapat tempat bernaung dalam
istana. Saat akal bulusnya ketahuan, keduanya nyaris kehilangan nyawa jika tak
ditolong Mao yang secara kebetulan berada di sana.
Mao bukan
hanya menyelamatkan Allan dari kemarahan Kim Jong Un
yang baru berusia 10 tahun tapi sudah sangat paham bagaimana sakitnya ditipu dan dibohongi.
Mao memberinya sangat banyak uang dollar yang ia klaim diperolehnya dari
presiden Amerika, Harry Truman. Setelah berunding, Allan dan Herbert sepakat
menghabiskan uangnya untuk liburan di Bali, Indonesia. Tapi uang yang diberikan
oleh Mao terlalu banyak bahkan setelah dibagi dua dengan Herbert, hingga ia
menghabiskan waktunya selama 15 tahun tidur di bawah payung di tepi pantai di
Bali.
Di Bali
pulalah, keduanya bertemu Ni Wayan—kemudian oleh Herbert namanya diubah jadi
Amanda—seorang pelayan hotel yang kecerdasannya sejajar dengan Herbert. Sama
halnya dengan Herbert, Amanda tidak pernah melakukan sesuatu dengan benar. Yang
kiri jadi kanan, yang atas jadi bawah, yang salah jadi benar. Keduanya saling
jatuh cinta dan menikah. Dengan uang yang diberikan Mao, Amanda membeli sebuah
perusahaan jasa mengemudi, membelikan Herbert sertifikat instruktur mengemudi
palsu, bahkan meski Herbert tidak terlalu lancar mengemudikan mobil.
Ketika mulai
bingung dengan sisa uang yang dimilikinya, Amanda tertarik mendaftarkan diri
menjadi calon Gubernur Bali yang disetujui Herbert tanpa protes, sementara
Allan sendiri cukup sadar bahwa Amanda terlalu dungu untuk menjadi seorang
gubernur. Amanda menggunakan uangnya untuk menyuap sejumlah pejabat dan kolega
hingga langkahnya mulus menjadi gubernur, sebuah jabatan yang mampu menyamarkan kedunguannya dan memungkinkan ia
menumpuk kekayaan serta membeli sejumlah hotel.
Pasca
peristiwa G30SPKI, yang oleh penulis disebut sebagai (kurang lebih kalimatnya
seperti ini): “sebuah peristiwa pembasmian orang komunis, setengah komunis,
teman komunis, tidak komunis, dan orang-orang tidak bersalah sama sekali”,
Amanda mendapat tawaran yang makin membuat Allan geleng-geleng kepala. Presiden
Suharto menelepon Amanda, berterima kasih atas perannya di Bali dalam ‘pembasmian’
itu dan menawarkannya berangkat ke Paris untuk menjadi Duta Besar Indonesia
untuk Prancis. Serta-merta, perempuan dungu mantan gubernur itu bertanya, “Di
mana itu Paris?”
Singkat cerita,
Amanda dan Herbert berangkat ke Paris dan membawa Allan sebagai penerjemah,
sebelum akhirnya Allan menjalani pengalaman baru sebagai agen (mata-mata)
Amerika, dan kembali ke Swedia dan menjalani hidupnya seorang diri sebagai
orang tua sebatang kara di rumah yang ia beli dari hasil kerjanya sebagai
mata-mata. Petugas sosial menemukannya sesaat setelah ia meledakkan rumahnya secara
tak sengaja, ketika ia bermaksud meledakkan tupai yang sering mencuri ayamnya.
Ia dibawa ke rumah jompo, di mana ia melarikan diri.
Dalam pelariannya,
ia kemudian bertemu dengan teman-teman baru, menemukan sekoper uang, dan
tiba-tiba teringat akan Bali. Ia menelepon Amanda yang telah pensiun dan
mengabarkan bahwa ia teman-temannya akan berlibur di Bali, dengan membawa
seekor gajah (karena salah seorang teman seperjalanannya punya gajah yang tak
sudi ia tinggalkan). Tapi di Eropa, tak ada pesawat yang mau menerbangkan gajah
kecuali punya dokumen resmi dan perjalanannya disertai dokter hewan. Allan tak
putus asa. Ia menelepon sejumlah maskapai di Indonesia. Di Palembang, sebuah
perusahaan penerbangan bersedia menjemput gajahnya di Swedia asal diberi
bayaran berkali-kali lipat.
Masalah baru
timbul ketika akan mendarat di Bali, karena mereka tidak memiliki izin, apalagi
dengan seekor gajah di pesawat. Tapi ini Indonesia, sebuah negara dimana semua
hal bisa dibeli, bahkan membayar sebuah maskapai penerbangan untuk menerbangkan
seekor gajah lintas benua. Jika ada uang, tak ada masalah yang tak bisa
diatasi. Allan cukup menelepon otoritas bandara dengan memperkenalkan diri
sebagai Tuan Dollar, yang berarti ia punya banyak uang dollar untuk menyuap
petugas. Dan percakapannya di telepon bersama petugas bandara cukup
menggelikan:
“Halo, saya Tuan Dollar. Saya
ingin mendarat.”
“Apa? Siapa nama lengkap Anda?”
“Nama saya Tuan 100 Dollar. Saya
akan mendarat dengan seekor gajah.”
“Apa? Bisa diulangi? Suara Anda
tidak jelas.”
“Saya Tuan 200 Dollar.”
“Ok, Anda bisa mendarat.”
Setelah
membaca novel ini, saya cukup yakin bahwa Jonasson adalah seorang penulis yang
sangat cerdas dan banyak membaca buku sejarah. Novel ini banyak diperbincangkan
karena Jonasson menulis dengan gaya yang tidak biasa. Ia menulis novel ini
dengan gaya komedi, penuh humor dan kelakar, candaan satir, namun sarat dengan
kritikan. Jonasson membuat kisah perang dunia tak ubahnya bagai sebuah dagelan
dan permainan belaka dari para kepala negara.
Jonasson
memberi banyak tempat untuk Indonesia dalam novel ini. Dan bagi saya, satu bab
yang ia tulis sudah cukup untuk menelanjangi Indonesia; tentang budaya suap, gratifikasi,
pembelian ijasah palsu, dan politik kotor yang bisa memuluskan orang dungu
sekalipun untuk memegang jabatan penting dalam dunia politik dan pemerintahan.
Bahkan saya
berpikir, Jonas Jonasson memiliki perhatian khusus terhadap Indonesia, dan
memiliki pengalaman dan kesan khusus di sana. Saya menduga, kritik itu, seperti
semacam kecintaan yang miris. Sebab, di antara sekian banyak tempat
yang disinggahi sang tokoh utama, Indonesia dijadikan sebagai tempat dimana
cerita berakhir. Dan di antara sekian banyak negara dengan sejuta kebobrokannya,
Indonesia mendapat tempat terbanyak untuk kritik pedas itu.
Makassar, 22 April 2015


Posting Komentar
0 Komentar