 |
| ilustrasi |
Jika Rob tak
membiarkan Doug menuruti obsesinya mencapai puncak Everest di saat-saat
terakhir, ia tentu bisa kembali ke bawah dengan selamat. Jika ia membiarkan
Doug kembali dari Everest untuk ketiga kalinya tanpa berhasil mencapai puncak,
ia tentu bisa menyaksikan anaknya, Sarah lahir ke dunia. Tapi apa daya, rasa
simpati dan belas kasih itu telah membuat mereka dan dua orang anggota regu
lainnya kehilangan nyawa sebelum kembali dari puncak. Tapi barangkali Rob terlambat
menyadari bahwa, di atas gunung rasa simpati dan emosi pribadi harus dibuang
jauh.
Dalam film
besutan sutradara Baltasar Kormaur ini, saya belajar satu hal, saat bekerja
dalam sebuah tim, apalagi dalam situasi sulit, jangan pernah memperlihatkan
rasa simpati dan belas kasih untuk satu orang saja. Keselamatan dan kesuksesan tim
adalah hal yang utama. Sebab simpati kepada satu orang saja bisa mengorbankan
keselamatan yang lain. Hal ini tentu saja tidak hanya berlaku untuk sebuah
kegiatan pendakian, tapi juga untuk semua pekerjaan yang dilakukan secara
berkelompok.
Film yang
diangkat dari kisah nyata ini mengisahkan petualangan para pendaki Everest yang
mengalami petaka karena terserang badai pada 1996. Rob Hall, seorang pendaki
dari New Zealand sekaligus sebagai guide untuk pendakian Gunung Everest di
Nepal, harus membawa para petualang ini. Mereka adalah Dough Hansen yang sudah
2 kali gagal mencapai puncak dan kali ini hendak mencoba yang ketiga kalinya, Yasuko
Namba pendaki dari Jepang yang sudah berhasil mendaki 6 puncak gunung tertinggi
dan berniat menjadikan Everest sebagai yang ketujuh, dan Jon Krukauer si
penulis yang akan menuliskan kisah perjalanan tersebut dalam majalah. Ada pula para
pendaki profesional lain: Scott Fischer, Andy Harris, dan Anatoli Boukreer.
Pada awalnya,
pendakian tersebut berjalan dengan lancar. Semua anggota regu mendaki dengan
riang gembira sambil saling bercanda. Namun cuaca di atas gunung tak pernah
bisa ditebak. Siapa yang menyangka bahwa sesaat setelah mereka berdiri di atas
puncak tertinggi dunia itu, sebuah badai sedang bergerak perlahan dari bawah
lereng dan bersiap menerjang mereka yang sedang tertatih-tatih kedinginan
sambil bergelayutan di tali-tali yang menahan tubuh mereka di dinding bukit.
Mereka hanya
terlambat sepuluh menit untuk berhasil menghindari badai tersebut. Seluruh
anggota regu telah berhasil tiba di puncak kecuali Doug yang berjalan lamban
karena kelelahan dan oksigen di tabungnya sudah nyaris habis, dan Beck yang
tiba-tiba pandangannya tiba-tiba mengabur sehingga harus berhenti di lereng
sambil menunggu teman-temannya kembali dari puncak.
Dalam
perjalanan kembali dari atas puncak untuk kembali ke pos terakhir, Doug
berkeras untuk mendaki hingga ke puncak. Puncak tertinggi dunia sudah ada di
depan matanya, dan ia tidak rela kembali sebelum menginjakkan kaki di sana.
Karena bersimpati, Rob akhirnya kembali ke atas untuk menemaninya. Rob tahu
bahwa puncak Everest adalah obsesi terbesar dalam hidup Doug.
Dari pos
pemantauan, Guy sudah mewanti-wanti Rob bahwa badai sudah mendekati puncak
tempatnya berada. Tapi semuanya sudah terlambat. Begitu tiba di puncak, tubuh
Doug lemas tak berdaya karena kehabisan tenaga dan oksigen. Susah payah Rob
menarik tubuh Doug namun akhirnya gagal. Doug terjatuh. Sementara Andy Harris
yang meninggalkan regu dan kembali ke atas membawa tabung oksigen untuk Doug, akhirnya ikut
terjebak badai bersama Rob. Ia mati karena hipotermia. Regu bantuan yang
dikirimkan untuk menolong Rob tidak berhasil karena badai susulan masih
menerjang. Bahkan suara Jan—istri Rob yang sedang hamil anak pertama—di telepon
tak sanggup membuat ia menggerakkan tubuhnya yang terlanjur membeku.
Sementara
itu, beberapa puluh meter dari pos, tim penyelamat melewatkan tubuh Beck
bersama tubuh Yasuko karena mengiranya sudah meninggal. Beck harusnya memang
sudah mati. Tapi saat ia siuman, bayangan istri dan kedua anaknya menari-nari
di pelupuk mata seakan memberi ia kekuatan untuk menggerakkan tubuhnya yang
telah membeku. Jari-jemarinya telah hilang termakan salju. Dengan
tertatih-tatih, ia berjalan menuju tenda di pos. Beck bisa diselamatkan setelah
sebuah helikopter datang menjemputnya. Dalam kisah nyata, Beck kehilangan
jari-jari tangan dan hidungnya.
Everest,
bukan sekedar sebuah film yang memperlihatkan betapa susahnya mencapai puncak
Everest, puncak tertinggi dunia dengan ketinggian mencapai kurang lebih 8.000
meter dari atas permukaan laut. Di sini, kita bisa melihat dan membayangkan
bagaimana manusia sanggup melakukan apa saja demi sebuah pencapaian yang
membanggakan bagi dirinya. Mereka tentu tahu bahwa Everest bukanlah medan yang
mudah untuk didaki. Tapi ini tentang
sebuah pencapaian. Sekali tiba di atas sana, kebanggaan itu akan dibawa seumur
hidup. Maka tak heran, mereka sanggup mengeluarkan uang sebesar 76.000 USD
untuk membayar guide. Dan satu hal yang tentunya juga disadari, bahwa selain
uang sebesar itu, mereka juga sedang mempertaruhkan nyawa, yang tidak bisa
ditukar dengan uang 76.000 USD tentu saja. Entahlah jika mereka merasa bahwa
kematian dalam perjalanan mendaki puncak Everest juga akan dianggap
membanggakan. Tapi saya, yang tak menyukai hobi dan obsesi seekstrim itu
berpikir, ah alangkah mengerikannya obsesi seorang manusia, hingga untuk
mencapainya, apa pun sanggup dipertaruhkan termasuk nyawa.
Bagi saya, nuansa
kengerian film ini masih kurang terasa. Saat nonton trailernya, saya
membayangkan seisi bioskop akan histeris saat menonton, namun ternyata tidak
demikian. Tapi bagaimana pun juga, film ini bisa menjadi salah satu tontonan
menyenangkan, bagi mereka yang bosan
dengan film-film yang berkisah tentang superhero memberantas para penjahat.
Makassar, 22 September 2015
Posting Komentar
0 Komentar